Ciki untuk Anak Kecil
Malam ini menyenangkan, kotaku sejuk, dingin tanpa peluk,
rindu tanpa kasih sayang. Itu aku. Hai Eli ku yang manis, menyenangkan bisa berbincang
sebentar di socmed, jangan terlalu serius, mungkin bagimu itu hal yang biasa
biasa saja, dan maklum, bagiku adalah hal yg luar biasa, aku ini orang yang
mendamba hati mu tanpa balas, kecuali balas chatmu malam ini, makasi ya.
Kamu tahu? Tiap kali balas snapgram mu itu seperti
membangunkan Gajah tidur, galak? Tidak. TAPI pasti ada rasa takut terinjak
dengan gajah tsb karna telah membangunkan nya. Sama seperti ku, ada waktunya
dimana menunggu balas chatmu itu slalu terngiang ngiang “ini anak ilfeel ngga
ya sama gue” tolong, garis bawahi itu. Aku tidak meminta hati, tapi minta mulut
mu mengucap kembali. urusan hati, aku yang urus.
Bercerita tentang ayahmu yang sangat sayang padamu lewat medsos
itu membuat ku slalu tertawa, bahwasanya, anak manja ini memang menggemaskan,
slalu berfikir out of the box. Seperti mama minta tolong beli gula, sepulang
nya malah nambah, beli Ciki. Ayah pun kritik anaknya tipis tipis “Udah gede masih
aja beli ciki” “Lah terus beli apa? Pizza? Diwarung mana ada pizza pa” “…… Bisa
aja kamu” kalian sudah simpulkan betapa warung menyediakan pizza akan seperti apa?
Haha.
Tak cukup itu saja cerita malam ini tentang mu, ku buka
perbincangan denganmu mengenai dimana kamu melanjutkan studi, menyenangkan
rasanya seorang Eli ingin jadi jurnalis, wow. Kakak ku seorang jurnalis, aku
mengagumi nya, entah dari tulisan nya, cara ia bercerita, itu semua mengagumkan,
aku menyukainya. Tapi aku tak berharap kamu seperti kakak ku, cukuplah jadi Eli
yang kukenal, galak kalo laper, jutek, bodo amat dengan pasangan nya, itu yg
kurindukan setelah berpisah denganmu, aku betul betul rindu.
Kampus mu, UNN. Ada hal yang ku merasa, aku rasa tidak bisa,
padahal belum ku coba, dan benar benar mencoba, memikirkanmu saat di kampus
nanti bila waktu kelas mata kuliah ku kosong. Kata Dilan Cemburu itu hanya untuk orang
yang tidak percaya diri, YA. Aku memang sedang tidak percaya diri, mendengar mu
berada di kampus tengah kota dan ternama membuatku pesimis untuk membawa mu pulang
dalam peluk ku lagi, apalagi kamu bukan siapa siapa seperti dulu, entah kamu ingin
beranjak keluar mengajak hati yang baru entah memikirkan ku yang 2 semester
menghilangkan sepi hanya pada semesta di sekitarku untuk menitipkan salam rindu
padamu. Aku hanya berharap, baik baik lah disana, siapapun labuhan hatimu
nanti, aku tak pernah pantang berdoa untuk kita, yang jelas aku ingin jadi
labuhan hatimu lagi li. Semoga Tuhan dan semesta mengabulkan nya ya. Selamat Malam
li, selamat tidur, semangat!
Salatiga,
3/11/18 – 23:09