Dengan siapa?


Ku tuliskan cerita malam ini, bagaimana bisa otak ini tak bisa berhenti memikirkan mu, mengkawatirkan mu. Kawatir kau Bersama orang lain, kamu bisa menghiraukan nya, toh itu pilihan mu, tanpa di kekang tapi untuk ku, kamu pantas untuk aku kenang. Malam ini, aku bingung harus memikirkan apa, memikirkan mu seperti setiap hari, tiada jeda, tiada batas. Menyenangkan sekali melihat mu hanya dari Insta Stories yang entah dengan siapa.

Di satu sisi, ada benak barisan barisan perempuan yang pernah dekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi seperti ingin pulang, tapi aku senang sekali menghiraukan nya untuk mu, tapi pernah kah sekalipun kau memikirkan ku? Aku punya firasat yang baik kamu bahagia dengan yang lain.

Tapi ku pikir aku hanya menga ada ada saja, tidak tau kebenaran nya, chating kita saja sekitar 2 minggu lalu lebih, itu meninggalkan rasa bahagia bisa mendengar cerita cerita random mu, betapa bahagia mu dengan studi yang kau ikuti selepas di masa Kejuruan, kau tau? Aku senang sekali mendengarnya. Kau menceritakan nya seperti cerita pada orang orang yang biasa bercererita dan berdiskusi dengan mu, tapi untuk ku, semua special, terlebih notifikasi mu dengan pesan “Gausah sungkan kak klo mo cerita” mudah untuk menerima itu, tapi susah untuk ku memulai kembali, mau bahas apa lagi selain tentang studi mu dan studi ku? Kapan kau memulai membahas tentang kita? Bila ku yang memulai nampaknya kurang relevan, memulai chat dengan mu saja perlu riset, mbak.

Dulu, tiap malam kita sering sekali bercerita apapun, walau tidak dengan suara langsung, saling menasehati itu asik, tanpa akhir, itu momen favorit ku. Sekarang kamu kan sibuk, jangan kan pulang kerumah, balas dm ku terakhir saja mungkin tidak akan tersampaikan dalam notif handphone ku.

Perasaan malam ini, benar benar random, aku memikirkan siapapun yang harusnya aku pikirkan. Kamu, kawan kawan ku, Ibu, Ayah, Kakak, terakhir ya tetap tugas kuliah. Saat ini aku sedang berdamai dibawah indahnya bulan dan bintang, dengan kopi robusta temanggung yang rasa nya tidak karuan, ku pikir sih, apa yang harus ku harapkan bila harganya 8ribu rupiah? Apa aku yang sok tau karna jarang ngopi? Entahlah.

                                                                                                                                                                                                                                                                                               Salatiga, 18 Mei 2019

Komentar