Pagi Buram
Pagi pahit yg timpang tindih terbalik akhir pekan yang
harusnya bisa bersantai ria dengan buku atau secangkir kopi, tapi jiwa ini
sudah terlatih untuk mengikuti kewajiban nya sebagai mahasiswa, tanggung jawab
pada apa yang telah di ikuti sebelumnya, mata meninggalkan pejam kenyamanan nya
lalu beranjak pergi.
Pagi ku
indah saat itu, namun ada beberapa hal yang harus ku ceritakan padamu di hari
ini, poin pentingnya adalah ; yang pertama, Kamu tak akan tau, yang kedua, Kamu
tak akan peduli dan yang terakhir aku berharap kamu tidak akan cemburu, tolong.
Wajah pemalas,
lesuh, mata yang slalu protes pada tuan nya untuk meminta waktu istirahat yang
lebih lama, rambut ikal ora kopen (tak ter urus), bersama para pelengkap bulu
di dagu yang tak kunjung di potong bila tidak di ingatkan mantan. Haha bagaimana?
Aku sudah terlihat anak ke Indie-an? Aku sih tak yakin dengan argumen ku, itu
penilaian diri yang sombong.
Panggil
saja dia Rachel, Namanya bagus, aku suka, tapi kurasa tak mungkin ku miliki,
aku harus tetap berada pada jalur perjuanganku. Ah cukup basa basi nya. Jujur saja,
mata ini usil untuk memandang, boleh kan? Kebetulan kita di satu kelompok yang
sama untuk berdiskusi tentang pebelajaran pembuatan suatu acara dalam kampus,
aku senang menatap matanya, lalu aku berandai ingin menghentikan tawa nya
sejenak, karna bila tanpa henti, aku tak akan kuasa akan senyumnya.
Elok,
kata pertama hati ku saat itu untuk hidungnya yang runcing dan bibirnya tebal, ciri
khas ketimuran Indonesia, kamu sudah bisa membayangkan nya? Tiap kali ia
berbicara, pasti slalu berbobot, terkadang aku malu bila tertangkap mata senang
memandangnya dengan serius, tapi tak masalah, alasanku juga bisa berbobot,
karna bila memandang seseorang saat berbicara sama dengan menghargai. Betul?
Pandang
sana sini, membuatku tetap pada pendirianku, tak ada rasa keinginan memlikinya
sama sekali, karna mengagumi yang indah indah itu tak selalu untuk mencintai,
apalagi menyangi, aku selalu genggam itu, komitmen besar untuk satu tekad untuk
membawamu berpulang kembali, walaupun tak tahu sampai kapan, yang jelas aku
berhenti bila kamu sudah memukul mundur hari ini yang penuh harap.
Mendamba satu hal mengenai betapa aku belajar untuk mencari yang lain atau menunggu nya
kembali membuat ku semakin besar kepala, semakin yakin ia akan berpulang,
padahal bisa saja sebaliknya, itu yang kurasakan. Sering kuletakan letih ini
pada yang Maha Kuasa, ia kadang slalu
berpihak padaku, aku yakin akan rencana indahnya, bilamana apa yang kucurahkan
padanya, bagi ku kini tak bertuan entah untuk siapa, yang tuhan tau pasti itu
untukmu.
Salatiga, 18 Febuari 2018
Komentar
Posting Komentar